Lunturnya Nasionalisme Pemuda Indonesia

Oleh : Mohammad Syahril Wasahua

S etiap peristiwa besar di Indonesia, pemuda selalu hadir sebagai entitas yang bergumul di dalamnya. Dalam bentangan sejarah, baik dari revolusi fisik hingga perjuangan diplomatif, pemuda selalu mengambil bagian strategis dan mendorong proses restorasi sosial menuju idealisasi kehidupan sebagai sebuah bangsa yang berkeadilan. Namun hal tersebut kini menjadi cerita yang ditulis berbundel-bundel dalam buku sejarah. Menjadi teks mati yang bisu dan sewaktu-waktu lapuk digerogoti waktu dan proses penuaan.

Teks sejarah kaum muda itu, tidak lagi hidup dalam kiprah dan aksi ideologis. Lihat saja beragam kecongkakan Malaysia terhadap Indonesia, apa yang bisa dilakukan pemuda dan mahasiswa Indonesia dengan jiwa dan semangat mudanya? Mereka hanya termangu di bangku-bangku kuliah, tenggelam dan larut dalam diskusi apologetik tanpa diimbangi dengan laku dan aksi. Semuanya kosong melompong begitu saja. Itulah pemuda Indonesia saat ini. Pemuda yang tak tahu malu ketika negerinya dicemooh.

Dibandingkan dengan mahasiwa dan pemuda di jaman revolusi, pemuda dan mahasiswa saat ini selalu berkilah di balik wacana dan teori. Mahasiswa dan pemuda sat ini, tidak lagi hadir sebagai kekuatan organik pembaharu dan penggas kedaulatan negerinya. Pemuda saat ini hanya memikirkan isi perut ketimbang isi kepala dan perkara ideologi perjuangan.

Gagasan nasionalisme

Dalam sumber nilai apapun, rasa cinta terhadap ibu pertiwi adalah sebuah nilai dan juga sebuah kredo. Jauh sebelum Ernes Renan menemukan teori nasionalisme, dalam basis nilai ajaran agama, telah memadukan pemuda dan harga diri sebuah negeri sebagai sesuatu yang saling mengandaikan. Dalam kaitannya dengan relasi agama negara ini, diungkapkan dengan terminologi “cinta tanah air adalah sebahagian dari iman”.

Singkat kata, negeri yang kuat adalah negeri yang memiliki pemuda yang kuat dan berfikiran maju. Memiliki struktur ideologi dan kedewasaan konsepsi tentang kebangunan negerinya. Dalam kesadaran yang demikian, rasa nasionalisme itu, harus terus menjadi api yang berkobar-kobar dalam dada. Suatu nilai yang secara simultan membakar semangat kemudaan.

Sejak berulangkalii harga diri negeri kita diobok -obok oleh negara yang katanya serumpun itu, mestinya jiwa muda kita terpanggil untuk mengatakan “tidak” kepada Malaysia sejak hari ini hingga kapan pun. Demi harga diri sebagai sebuah bangsa. Gagasan nasionalisme ini harus terus-menerus ditransformasikan dalam praksis kehidupan kaum muda, agar kita tidak lemah dihadapan siapapun. Termasuk dalam percaturan dan pergaulan pemdua secara mondial. Nasionalisme adalah ruh dari sebuah negara. Dan semangat itu sejatinya ada dalam diri setiap pemuda.

Mengasa nasionalisme

Untuk mengasah ketajaman rasa nasionalisme dalam batin perjuangan kaum muda, maka konsepsi dan lakon kebangsaan itu setiap saat harus terus diasah dengan merespon berbagai polemik yang mengguras luka dibatin sebahagian rakyat kita di negeri ini. Meminjam istilahnya Nurcholis Majid (almarhum) disebutnya bahwa “pemuda adalah anak kandung sejarah”. Menyatunya konsepsi pemuda dan aspek kesejarahan inilah, kesadaran kritis nasionalisme pemuda harus diasah dengan

melandaskan semangat tersebut pada konsepsi kedaulatan NKRI.****

Menurut hemat penulis, dengan cara yang demikian, pemuda akan merasa bertanggung jawab terhadap kedaulatan negerinya. Bukan malah sebaliknya, hanya berdiam diri dan membiarkan negeri ini terus diremehkan.

One thought on “Lunturnya Nasionalisme Pemuda Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s