Metode Penyampaian NDP HMI

Oleh : Encep Hanif Ahmad *

Sekapur Sirih

Dalam cerita Mahabharata, ada banyak resi dengan berbagai ilmu yang linuhung, tetapi hanya satu orang yang dinobatkan sebagai maha guru, baik oleh Pandawa maupun Kurawa. Beliau adalah Resi Dorna (Kumbayana). Sekalipun ketika Bharatayudha di lapang Kurusetra berlangsung, Sang Resi berpihak pada Kurawa, namun penghormatan Pandawa kepada beliau sedemikian tingginya, bahkan Drestajumena yang telah memenggal kepala Sang Resi pun akan di bunuh oleh Arjuna.

Apa sesungguhnya yang telah dilakukan oleh Resi Dorna, sehingga para muridnya sedemikian hormat, bahkan Ekalaya, seseorang yang hanya berguru pada patungnya pun sedemikian patuh untuk memotong kedua jempol tangannya, ketika Sang Maha Guru memintanya. Di berbagai versi[1] Mahabharata, cara Resi Dorna mengajar memanah pada murid yang satu dengan lainnya seringkali berbeda.

Dalam salah satu segmen cerita Mahabharata, digambarkan ketika beliau mengajarkan memanah pada Duryodana (ada juga yang menyebutnya Suyudana, Kurawa, putra pertama Destarata), beliau memegang tangan Duryodana untuk memegang busur dan anak panahnya, kemudian beliau tarik itu gondewa dan diarahkan pada sasaran, kemudian beliau meminta Duryodana melepas anak panah, dan hasilnya…. seeettt… anak panah pun menancap tepat pada sasaran.

Berbeda ketika Resi Dorna mengajari Arjuna memanah, beliau cuma bilang, “Arjuna coba kamu panah burung yang sedang bertengger di dahan pohon itu”. Arjuna pun bersiap-siap untuk memanah burung di pohon, sesaat sebelum Arjuna melepas anak panahnya, Sang Resi bertanya, “Apa yang kamu lihat?” Arjuna menjawab, “Seekor burung di atas pohon guru.” Kemudian Resi Dorna bilang, “Jangan lepas anak panahnya, perhatikan lagi, apa yang kamu lihat sekarang?” Arjuna pun menjawab, “Seekor burung, guru”. “Jangan lepas anak panahnya, perhatikan lagi, sekarang apa yang kamu lihat?” tanya Resi Dorna lagi. “Sebuah leher burung guru,” jawab Arjuna. “Sekarang lepaskan anak panahnya,” kata Resi Dorna, dan…. seeeetttt…. anak panah pun melesat…. dan ceeeppp… tepat mengenai leher burung itu.

Dari dua segmen cerita Mahabharata tersebut, tergambar bahwa untuk mengajari orang memanah, Resi Dorna memiliki beberapa cara dalam mengajar. Dikaitkan dengan tema/judul tulisan ini, cara dalam mengajar inilah yang dimaksud dengan metode penyampaian. Pada dasarnya, metode penyampaian materi yang baik adalah metode yang mampu membuat para penerima materi bisa memahaminya, bahkan mengaplikasikannya dalam kehidupan keseharian.

Baik buruknya suatu metode penyampaian materi diukur dari pemahaman peserta penerima materi. Jika penerima materi dapat memahami materi yang diajarkan, maka dapat diduga bahwa metode penyampaian materinya baik. Demikian pula sebaliknya. Berbicara metode penyampaian materi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, sesungguhnya tidak ada kekhususan tertentu yang membedakan dengan materi lainnya.

Metode versus Metodologi

Banyak orang yang seringkali saru antara term metode dan metodologi, sehingga kadangkala kedua istilah ini dianggap sama. Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh membahas metode penyampaian materi, maka sebaiknya terlebih dahulu memahami perbedaan antara kedua term ini.

Secara sederhana metode penyampaian materi dapat dipahami sebagai teknik atau cara menyampaikan suatu materi. Beberapa metode penyampaian materi yang sering dijumpai antara lain ceramah, diskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan metodologi penyampaian materi secara sederhana dapat dipahami sebagai alur/kerangka berpikir atau tahapan dalam penyampaian materi. Ada pula yang memahami metodologi sebagai sebuah ilmu yang berupa rangkaian metode. Dari pemahaman sederhana terhadap kedua term tersebut, terlihat benang merah antara keduanya, yaitu metode berada pada wilayah taktis dan metodologi berada pada wilayah strategik.

Mana yang lebih penting untuk dikuasai oleh seorang pemateri/instruktur/pemandu? Tanpa perlu diperdebatkan, saya menyarankan “Kuasailah metode”. Dalam sebuah riwayat, seseorang menghadap Rasulullah saw dan menyatakan bahwa ia tertarik untuk masuk Islam, namun ia juga menyatakan bahwa ia masih sangat suka dengan maksiat, sehingga ia meminta untuk tidak diberikan syarat yang berat dalam ber-Islam apalagi dilarang bermaksiat. Mendengar hal itu Rasulullah saw tersenyum dan bersabda, “Untuk ber-Islam tidak sulit, cukup membaca kalimah Syahadat, dan yang lainnya cukup kamu berjanji untuk tidak berbohong”. “Kalo demikian saya sanggup ya Rasulullah,” kata orang itu, kemudian ia membaca kalimah Syahadat. Suatu kali ia bertemu dengan TTM-nya yang cakep dan diajak untuk berasyik-masyuk, tetapi ketika ia akan melakukannya, ia teringat akan janjinya pada Rasulullah untuk tidak berbohong. “Bagaimana kalo Rasulullah nanya apakah ia masih berzinah, kalo jawab tidak artinya berbohong, tapi kalo menjawab iya, artinya hukum akan berlaku,” pikirnya. Akhirnya ia mengurungkan perbuatan zinah-nya, demikian pula ketika ia akan melakukan perbuatan maksiat lainnya, ia selalu mengurungkan karena ia teringat akan janjinya untuk tidak berbohong, sampai akhirnya ia dapat meninggalkan semua perbuatan maksiatnya.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw merupakan salah satu metode yang tepat dan efektif untuk mengubah habbit yang buruk. Ini bisa dilakukan karena beliau sangat menguasai metode apa yang tepat dalam menyampaikan Islam sebagai rahmatan lil alamin sehingga umatnya mampu memahami dan menjalankan Islam secara kaffah. Penguasaan Rasulullah saw terhadap metode penyampaian ajaran Islam bisa dilakukan karena beliau sangat memahami metodologi atau tahapan dalam ber-Islam, dimana ia tidak bisa dilakukan secara sekaligus dan serta merta, tetapi bertahap. Rasulullah saw sangat memahami psikologi manusia yang unik.

Dengan demikian, penguasaan metode penyampaian materi dapat dicapai apabila metodologi penyampaian materi sudah dikuasai. Contoh lainnya adalah jika kita sakit dan mendapatkan obat per-oral dari dokter, maka kita hanya akan disarankan untuk memakan obat itu sesuai dengan ketentuan, jarang sekali dokter yang menyarankan untuk makan, padahal menurut beberapa referensi kesehatan, makan adalah cara efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Namun jika kita perhatikan lebih jauh, maka ketentuan memakan obat pasti berangkai dengan makan, baik sebelum atau sesudah. Artinya jika kita memakan obat serta merta juga harus makan, maka tak heran dokter tak perlu lagi menyarankan kita untuk makan. Sama halnya dengan seorang kiai yang memberikan amalan yang mesti dibaca setelah sholat, biasanya beliau tidak pernah menyuruh untuk sholat.

Untuk memahami metodologi penyampaian materi, maka perlu dipahami apa yang menjadi substansi materi. Tanpa memahami substansi materi tidak mungkin dapat membuat sebuah metodologi, apalagi metode secara tepat dan efektif. Sebuah metodologi bukanlah sebuah tradisi yang dapat diturun-temurunkan, ia dapat berubah sesuai perkembangan zaman, walaupun secara prinsip ia akan bersifat statis. Oleh karena itu untuk mampu menyampaikan materi NDP, maka prasyarat yang mesti dipenuhi adalah penguasaan terhadap substansi materi dan memahami prinsip dasar metodologi penyampaian NDP.

NDP yang Saya Pahami

Dari beberapa informasi yang pernah nyangkut di kepala, NDP merupakan seperangkat nilai yang bersumber dari ajaran Islam, bahkan pada awalnya NDP merupakan penjelasan asas, kemudian ketika asas Islam HMI berubah menjadi Pancasila, maka NDP berubah nama jadi NIK yang merupakan penjelasan identitas. Pada posisi sebagai NIK, NDP merupakan penegasan bahwa walaupun secara organisatoris HMI berasaskan Pancasila, tetapi jati dirinya tetap Islam. Sayangnya, ketika HMI kembali berasaskan Islam, NDP entah secara sadar atau tidak didegradasi menjadi penjelasan peran, dengan nama yang kembali berubah menjadi NDP.

Walaupun hari ini NDP secara organisatoris hanya diposisikan pada wilayah strategis, tetapi secara budaya NDP masih tetap dipandang sebagai point of view anak-anak HMI atau banyak yang mengistilahkannya dengan ideologi HMI. Secara sederhana, hampir seluruh keluarga besar HMI memandang NDP sebagai landasan gerak dalam upaya mencapai tujuan atau pakem/prinsip dasar dalam melakukan usaha pencapaian tujuan akhir organisasi. Sebagai pakem/prinsip dasar dalam berjuang, maka NDP juga berarti merupakan kacamata yang berfungsi sebagai parameter/ukuran/standar kebenaran yang diyakini oleh kader-kader HMI.

Dengan pemahaman bahwa NDP merupakan alat pembeda benar dan salah, maka secara substansi, NDP mestilah mampu memberikan benang merah antara hitam dan putih, NDP tidak boleh berwarna abu-abu. NDP mesti menjadi pagar dan rambu-rambu serta spirit untuk senantiasa dinamis bergerak menuju ke depan dan mencapai tujuan.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa NDP dilihat dari sumbernya berasal dari ajaran Islam, maka sudah barang tentu nilai-nilai yang ada dalam NDP tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu tolok ukur apakah materi NDP yang disampaikan kepada peserta benar sesuai dengan substansi materi yang semestinya adalah dengan melihat kesesuaian dengan ajaran Islam. Jika isi materi yang disampaikan akhirnya justru mereduksi keyakinan terhadap ajaran Islam, maka patut diduga bahwa pemateri/instruktur tidak menyampaikan materi sesuai dengan substansi materi NDP.

Berbekal prinsip di atas, maka dapat disusun metodologi penyampaian materi NDP berdasarkan pesan materi (dalam bahasa bebas dan simplifikasi, pen.) yang mesti tersampaikan secara bertahap adalah sebagai berikut:

1.  Keyakinan yang mesti diyakini adalah kebenaran yang benar-benar Benar

– Kebenaran yang benar-benar Benar mestilah universal, tidak terbatas, dan tidak terpengaruh oleh sesuatu apa pun (absolut/mutlak)

– Kebenaran absolut/mutlak hanya dapat bersumber dari sesuatu yang mutlak/absolut juga

– Allah merupakan sumber kebenaran yang benar-benar Benar

2.       Kebenaran yang benar-benar Benar hanya dapat dicapai dengan cara yang benar

– Kebenaran yang benar-benar Benar tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan kenisbiannya

– Pengetahuan manusia terhadap kebenaran yang benar-benar Benar hanya mampu menjangkau keber-Ada-an Sang Kebenaran Mutlak, bukan Sang Kebenaran Mutlak itu sendiri

– Pengetahuan manusia mengenai kebenaran yang benar-benar Benar hanya sebatas/berdasarkan informasi[2] yang diberikan oleh Sang Kebenaran Mutlak itu sendiri

– Pencapaian manusia terhadap kebenaran yang benar-benar Benar dapat dicapai jika dan hanya jika manusia hidup selaras dengan informasi dan hukum-hukum-Nya, kata kuncinya adalah baca kitab dan kejadian

3.       Tujuan hidup manusia adalah kabagjaan/kasugemaan[3]

– Tidak ada satu pun manusia yang menginginkan kerugian/kesengsaraan terjadi pada dirinya

– Kerugian/kesengsaraan merupakan muara dari kesalahan, maka untuk mencapai kabagjaan/kasugemaan mestilah sebaliknya, yaitu berangkat dari kebenaran dan dengan cara yang benar

– Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, dimana selain memiliki aspek jasmaniah, manusia juga memiliki aspek rohaniah yang terikat sebagai satu kesatuan yang utuh dan saling mempengaruhi, maka orientasi kebenaran yang ada pada diri manusia tidak cukup hanya sebatas aspek kerohanian (pemikiran/pengetahuan) tetapi juga mesti tercermin dalam aspek jasmaniah (perilaku), dengan kata lain aspek kerohanian dan jasmaniah mestilah linier

4.       Kabagjaan/Kasugemaan berpangkal dari ketundukan pada kebenaran

– Jalan hidup seseorang ditentukan oleh masing-masing individu

– Kemerdekaan merupakan prasyarat dalam menentukan jalan hidup

– Setiap apa pun di luar Sang Kebenaran Mutlak akan terikat oleh hukum universal

– Untuk mencapai kabagjaan/kasugemaan mesti selaras dengan hukum universal

5.       Relasi give and give syarat terbangunnya masyarakat berkeadilan

– Tidak ada seorang manusia pun yang sempurna

– Untuk mencapai kesempurnaan-nya yang membawa pada kabagjaan/kasugemaan, manusia membutuhkan kelebihan orang lain untuk menutup kekurangannya

6.       Penguasaan ilmu pengetahuan merupakan prasyarat untuk mencapai Sang Kebenaran Mutlak

7.       Kalimat kunci keselamatan hidup adalah beriman kepada Sang Kebenaran Mutlak

Seseorang dapat disebut beriman apabila pola pikir, pola sikap, dan pola tindaknya selaras dengan Sang Kebenaran Mutlak, karena ruang lingkup iman tidak hanya sekedar pengetahuan, tetapi juga pelaksanaan

Dari gambaran metodologi NDP yang saya pahami, maka sesungguhnya NDP mestinya tidak sulit untuk dipahami oleh setiap kader HMI. Kesulitan NDP yang dialami oleh sebagian besar kader-kader HMI ditenggarai akibat dipersulit oleh pemateri. Dalam beberapa kesempatan, saya melihat beberapa pemateri seringkali terjebak pada pembahasan ilmu alat dibandingkan dengan substansi materi atau pesan yang mesti disampaikan.

Beberapa Pengalaman Berkicau NDP

Debut pertama saya mengisi NDP dapat dikatakan sebagai kecelakaan. Waktu itu saya sebenarnya hanya bertugas sebagai instruktur di Komisariat A2L HMI Cabang Bandar Lampung, dan yang menjadi pemateri adalah Kanda Al-Maarif Setaf (alumni HMI Cabang Palembang, dosen IAIN Raden Intan), tapi entah kenapa baru sekitar satu jam mengisi bang Arif pamit dan bilang kepada saya untuk melanjutkan materi sampai selesai. Setelah beberapa lama dari kejadian itu saya baru tahu kenapa Bang Arif berbuat demikian, semata-mata karena beliau memandang bahwa perlu permudaan untuk pemateri-pemateri NDP, dan saat itu sebagian besar pemateri muda menyatakan tidak siap jika ditugaskan sebagai pemateri NDP, maka mau tidak mau regenerasi pemateri NDP lebih banyak karena kecelakaan (khususnya di HMI Cabang Bandar Lampung).

Sebagai sopir tembak Bang Arif, saat itu saya pun melanjutkan materi NDP dengan gaya pemateri NDP yang selama ini suka saya lihat (katakanlah pendekatan brain washing). Hasilnya, saya sempat menjadi paporit (orang sunda jarang pake huruf F – pen.) pemateri NDP menyisihkan para pemateri tua dalam urutan prioritas pemateri di LK-LK yang lainnya. Cukup lama saya ber-gaya itu, tetapi lama-kelamaan saya melihat bahwa dampak materi NDP yang saya berikan tidak begitu signifikan, dengan indikator ritual shalat, bagi kader-kader yang awalnya sering melalaikan shalat menjadi rajin shalat, namun itu paling banter cuman buat seminggu maksimal sebulan dech, selanjutnya kembali ke behavior awal.

Pengalaman lain yang masih melekat di kepala adalah ketika mengisi materi NDP di Komisariat STBA HMI Cabang Bandar Lampung. Kala itu saya sedang berbincang dengan kawan-kawan yang lama tak bersua setelah mengisi materi, tiba-tiba dihebohkan oleh para SC yang bilang ke saya ada seorang peserta perempuan yang melepas jilbabnya. Akhirnya saya pun berbicara dengan sang peserta dan menanyakan kenapa ia membuka jilbabnya, padahal dari informasi yang saya dapat, dalam keseharian ia sudah berjilbab dan cukup aktif bergaul dengan kawan-kawan LDK. Sambil menangis dia bilang, “Bang, selama ini saya berjilbab karena disuruh, padahal saya tidak nyaman, tidak tahu buat apa dan merasa kering, makin dipaksakan makin tersiksa. Setelah mencermati materi Abang, saya ingin memulainya dari nol, saya ingin berjilbab karena kesadaran saya, bukan karena sesuatu yang lain”. Nah lho? Setelah terdiam sejenak karena bingung mo ngomong apa, akhirnya saya bilang, “kalo sudah punya satu, kenapa harus membuangnya kembali ke nol, tokh kamu cukup mendalami pemahaman tentang satu itu, tapi kalo kamu keukeuh mau memulainya dari nol ya gak papa, tapi kamu harus terus berproses, karena kalo tidak bergerak kamu akan tetap berada di nol”, sambil dalam hati saya berdoa agar peserta yang satu ini bisa mendapat pemahaman yang benar dalam pencariannya. Sang peserta pun tetap melepas jilbabnya. Walhasil saya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, bahkan ketua umum cabang, Arip Musthopa (sekarang Ketua Umum PB HMI) yang menjadi pemateri berikutnya bilang ke saya, “Kok cuman satu yang lepas jilbab, kalo semua peserta perempuan kan lebih asik”. Namun bukannya bertambah yang membuka jilbab, justru akhirnya sekitar sebulan kemudian sang peserta itu pun kembali berjilbab, jadi gak asik dech.

Dari berbagai pengalaman yang pernah dialami, saya berpikir bahwa berkicau NDP merupakan kesia-siaan. Sekitar satu tahun yang lalu, keponakan saya yang masih kelas satu SD bertanya, “Om, mesjid itu kan rumah Allah ya?” “Iya,” jawabku. “Kok kalo kita ke mesjid, Allah-nya gak ada ya?” tanyanya lagi. Hah? Jujur saja, saya bingung mo jawab apa. Apa musti dijawab dengan berbagai pendekatan filsafat atau apa? Saya teringat bahwa dia lagi hobi-hobinya maen game di komputer, saya tanya saja apakah dia melihat para pemain di game? Dia menjawab iya, lalu saya tanya lagi apakah para pemain itu dapat melihat dia? Dan ia menjawab tidak, begitupun Allah kata saya, Dia bisa melihat kita, tetapi kita tidak melihat Dia. Mungkin sampai saat ini jawaban itu cukup, tetapi nanti juga akan ada pertanyaan-pertanyaan baru yang lebih kreatif. Pengalaman itu makin mengukuhkan bahwa berkicau NDP adalah kesia-siaan.

Bagaimana Menjadi Pemateri NDP

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas bahwa NDP dipandang sebagai prinsip-prinsip dasar dalam memperjuangkan cita-cita HMI, sehingga setiap kader HMI mesti memahami dan mengamalkan NDP, oleh karena itu menjadi sebuah kemestian apabila NDP senantiasa disampaikan dan disosialisasikan kepada setiap kader HMI agar dapat memahaminya. Namun di sisi lain saya berpendapat bahwa berkicau NDP merupakan sebuah kesia-siaan. Kalau demikian bagaimanakah cara menyampaikan NDP?

Merujuk pada cerita Mahabharata, Resi Dorna merupakan seorang resi yang memiliki kemampuan memanah yang sangat luar biasa. Ini menunjukan bahwa Sang Resi tidak hanya sekedar memahami ilmu memanah tetapi juga secara praksis ia juga mampu memanah dengan baik. Ekalaya, berkemauan keras berguru pada Resi Dorna karena ia mengetahui bahwa Sang Resi memang jago memanah. Dari cerita tersebut dapat dipahami bahwa untuk mengajari orang lain adalah terlebih dahulu melakukannya, bukan hanya sekedar memahami dan menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan. Sederhananya adalah berikan contoh. Pemberian materi yang baik adalah mengajak, bukan menyuruh, jika mereka harus, kenapa kita tidak?

Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, biasanya manusia mendapatkannya melalui indera dan aqal. Pengetahuan yang didapat melalui sebagian saja di antaranya, biasanya memiliki daya keyakinan yang lemah, sebaliknya ketika memaksimalkan seluruh indera dan aqalnya, maka akan memiliki daya keyakinan yang sangat kuat (haqul yakin). Keyakinan yang sangat kuat akan terderivasi dalam keseharian, baik disadari ataupun tidak. Oleh karena itu, untuk mengefektifkan pemberian materi, maka sebaiknya menggunakan metode yang mampu memaksimalkan seluruh indera dan aqal, atau minimal indera pendengaran dan penglihatan. Beberapa fakta menunjukan bahwa indera penglihatan akan memberikan dampak yang lebih kuat daripada indera pendengaran.

Jebakan potensial yang seringkali mendera seorang pemateri antara lain:

1.       Ingin didengar, tak mau mendengar

2.       Ingin dimengerti, tak mau mengerti

3.       Menjadi orang luar

Kedua jebakan potensial pertama kerapkali berdampak secara psikologis terhadap penerima materi. Beberapa pengalaman menunjukan bahwa rasa suka penerima materi terhadap pemberi materi seringkali mempengaruhi penerimaan materi. Jika penerima materi sudah terlanjur tidak suka terhadap pemberi materi, maka biasanya akan mengabaikan apa pun yang keluar dari si pemberi materi. (Ini salah satu resiko menggunakan metode brain washing, maka perlu diperhatikan time limit jika menggunakan metode ini).

Posisi sebagai orang luar seringkali membuat jarak/batas antara penerima materi dan pemberi materi, sehingga menghambat proses transfer ilmu pengetahuan. Salah satu turunan dari jebakan ini adalah lemahnya daya kenal terhadap kemanusiaan. Syahdan menurut sebuah kitab keagamaan, manusia tercipta dari tanah, hal ini juga dapat berarti bahwa manusia memiliki karakteristik tanah, dimana ia bisa dibentuk menjadi apa pun, dan hanya dapat diisi sesuai dengan bentuknya.

Secara sederhana dan tersimplifikasi, untuk menjadi seorang pemateri, sebaiknya:

1.       Menjadi contoh

2.       Mau memberi, mendengar, dan mengerti

3.       Manjadi bagian

4.       Menjadi pembelajar

Dalam lokakarya NDP tahun 2001 di Graha Insan Cita – Depok, saya mendengar cerita/pengalaman beberapa kawan/senior yang menjadi pemateri NDP bahwa mereka merasa berhasil dalam memberikan materi ketika para peserta marah-marah dan kliyengan, yang akhirnya menjadi terkagum-kagum dengan kepiawaian sang pemateri dalam membolak-balik logika. Saya sungguh heran, bukankah pemateri bertugas untuk mempermudah pemahaman peserta?

Sebuah Penutup yang Bukan Akhir

Tidak ada satu pun metode yang buruk atau yang terbaik dalam pemberian suatu materi, yang ada hanyalah metode yang tepat atau tidak tepat. Pada dasarnya seorang pemateri adalah manusia biasa, bukan robot yang terprogram ataupun Kakek Segala Tahu dalam kisah Wiro Sableng, maka jadilah manusia.

Dalam sebuah obrolan imaginer ringan, Resi Prabu Manikmaya[4] mengatakan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah: a. boga pangarti, b. nyaho bener jeung salah, jeung c. mangfaat pikeun nu sejen (a. punya ilmu pengetahuan, b. tahu benar dan salah, c. bermanfaat bagi yang lain). Oleh karena itu, masih dalam obrolan imaginer, Pukulun[5] Seda Prakosa[6] mengatakan bahwa untuk memperoleh kabagjaan/kasugemaan manusia mesti:

1.       Pinter ora ketenger (cerdas dan pintar)

2.       Jujur jeung bener (jujur dan benar)

3.       Satia (setia, loyal)

4.       Sujud ka manten-Na (sujud, berserah diri kepada Sang Maha Kuasa)

5.       Mere maweh ka sasama (memberi kepada sesama)

Akhir kata, semoga bermanfaat.

Jakarta, 16 Juni 2010 pukul 00.08 WIB

[*] Tulisan ini pernah disampaikan dalam acara TOT NDP di HMI Cabang Kediri tanggal 17 Juni 2010

[1] Dalam cerita Mahabharata versi India agak berbeda dengan pewayangan versi Nusantara, dimana dalam pewayangan versi Nusantara ketokohan Resi Dorna sering disarukan dengan karakteristik tokoh Sengkuni, hal ini ditenggarai terjadi karena adanya upaya untuk mendesakralisasi kelinuhungan seorang resi – orang suci dalam agama Hindu – dimana pewayangan versi Nusantara lebih dikembangkan oleh para wali yang notabene beragama Islam

[2] Informasi ini dikenal dengan istilah wahyu (revelation). Mengenai hubungan pengetahuan manusia dan informasi Sang Kebenaran Mutlak ini, Hz. Mirza Tahir Ahmad ra. (Khalifah IV Jemaat Ahmadiyah) dalam buku “Revelation, Rationality, Knowledge, and Truth” menyatakan continuity of divine revelation is indispensable for supporting a profound unshakeable belief in God which cannot be attained with the help of rational investigation alone. Hence, revelation must always play a major role in strengthening belief in the existence of an Omniscient, Omnipotent God.

[3] Kasugemaan (bahasa Sunda) dapat diartikan sebagai kesenangan lahir dan bathin. Kabagjaan (bahasa Sunda) sinonim kebahagiaan.

[4] Pendiri kerajaan Kendan (menantu dari Prabu Suryawarman – raja ketujuh Tarumanagara, dan mertua dari Prabu Wretikandayun – pendiri kerajaan Galuh).

[5] Istilah/sebutan untuk leluhur yang dihormati/dimulyakan (bahasa Sunda)

[6] Nama dari Maharaja Purnawarman – Raja ketiga Tarumanagara

* Tulisan ini di kutip dari acount FB bang Encep Hanief Ahmad *(Ketua Badan Koordinasi nasional Lembaga Pengelola Latihan [LPL] sekarang BPL PBHMI)

untk ruang diskusi silahkan buka: http://www.facebook.com/notes/encep-hanif-ahmad/metode-penyampaian-ndp-hmi/438327958986