Surat Terbuka Ketua Umum PB HMI Kepada Keluarga Besar HMI : Demokrasi dan Masa Depan Kita

Ketum PB HMI

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kepada seluruh keluarga besar HMI di seluruh Indonesia, saya sampaikan selamat mereguk kenikmatan beribadah di bulan ramadhan yang mulia ini. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT, senantiasa diberi kesehatan dan tak kekurangan sesuatu apapun.

Tanggal 9 Juli tinggal menunggu waktu, Bangsa Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Telah kita dapatkan dua pasangan calon: Prabowo-Hatta dan Jokowi-Kalla. Keempat tokoh ini saya yakin adalah putra-putra terbaik bangsa yang telah melalui seleksi di partai-partai politik, yang tak lain merupakan lembaga kaderisasi kepemimpinan dan penyalur aspirasi rakyat yang sah.

Kita pantas gembira menyaksikan demokrasi (dengan segala kekurangsempurnaannya) kini telah menjadi gejala nasional dan berkembang sebagai satu-satunya prosedur untuk mengganti pemerintahan di Indonesia.

Ini bukan pencapaian sederhana jika membandingkan kondisi bangsa jiran semisal Thailand yang tak juga lepas dari jerat militerisme, atau Malaysia dan Singapura yang sukar beranjak dari status quo semi-demokrasi.

Kini kita nomor tiga dunia setelah India dan Amerika Serikat sebagai negara demokrasi terbesar. India dan AS adalah negara daratan yang lebih mudah saling terhubung, sedang Indonesia terdiri dari ribuan pulau-pulau yang dipisahkan lautan, dengan susunan masyarakat yang sangat majemuk. Tak mudah menyelenggarakan pemungutan suara dalam kondisi sosial dan geografis seperti ini. Dan kita telah melalui beberapa pemilu dengan hasil yang memuaskan.

Demokrasi telah menyediakan ruang publik yang lebih bebas dan terbuka. Kita mendapat keleluasaan untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi, dalam kerangka checks and balances, tanpa takut diberangus oleh penguasa.

Namun demokrasi tentu tak bisa dibiarkan berjalan sendiri, ia akan pincang jika tak ditopang oleh nilai-nilai keindonesiaan yang lain: ketuhanan, kewargaan yang beradab, persatuan dalam kemajemukan dan keadilan sosial.

Karena itu, kebebasan tak boleh dibiarkan menjadi preseden bagi munculnya suatu tirani mayoritas. Siapa pun yang kelak kita beri wewenang untuk berkuasa, wajib melindungi hak setiap warga tanpa kecuali. Setiap upaya pemaksaan penyeragaman atas nama mazhab, agama, ras, suku atau apapun yang melanggar konstitusi, harus dicegah sejak dini karena akan merusak cuaca kultural bangsa kita yang majemuk.

Sebagai bagian dari keluarga besar himpunan ini, kita masing-masing membawa mission untuk memerankan diri dalam perjuangan. Sebagaimana telah kita sama-sama hayati, perjuangan itu adalah mengusahakan tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Dan kita tahu, perjuangan ini tak pernah mengenal akhir.

Perjuangan menegakkan nilai-nilai tentu berbeda dengan politik praktis. Namun dalam pola hubungan organisasi yang semakin terbuka, modern dan rumit, kondisi saling mempengaruhi atau saling ketergantungan memang tidak dapat dihindari. Namun HMI sebagai organisasi harus berusaha menjaga jarak yang sama dengan kekuatan politik manapun.

Independensi bukanlah sikap pasif menunggu arah angin, namun berwujud dalam sikap dan kerja amr ma’ruf nahi munkar. Dalam bingkai demokrasi kita hari ini, amr ma’ruf dapat berarti peran aktif mendorong partisipasi pemilih di TPS-TPS dan memberi pendidikan politik untuk meningkatkan pemilih rasional. Sedangkan nahi munkar dapat diterjemahkan dalam upaya mencegah fitnah, kecurangan dan upaya adu domba, berani melawan tirani yang mungkin ada dalam benak kita sendiri.

Menghadapi kondisi terbelah duanya masyarakat yang cenderung terasa lebih tajam dan lebih dramatis belakangan ini, perjuangan kita memperbaiki demokrasi dan merawat kemajemukan bangsa tentu menjadi semakin relevan. Sehebat apapun pilpres, tak boleh merusak keindonesiaan.

Sampai di sini, jika kita sepakat untuk menjaga hari depan bangsa Indonesia tak jadi semakin buruk, momen pilpres harus menjadi upaya untuk memastikannya tak terjadi. Tindakan kecil kita menyelamatkan demokrasi dan kemajemukan akan menentukan Indonesia seperti apa yang akan saya, anda dan keluarga kita masing-masing rasakan di masa depan.

Siapapun kita saat ini, masing-masing memiliki satu suara, yang sama berharga, untuk kita ubah pada tanggal 9 Juli menjadi kewenangan yang diberikan kepada pasangan yang kita pilih. Kewenangan itu tentunya harus diberikan kepada pasangan calon yang diyakini kelak akan berkomitmen untuk memperbaiki kehidupan bersama, bukan sebaliknya.

Demokrasi memberi kesempatan bagi setiap kita untuk maju ke depan gelanggang menjadi subyek perubahan, menjadi pemilih yang berdaulat dalam pergantian pemerintahan yang akan menentukan arah pembangunan bangsa ke depan.

Dan demokrasi tentu tak berhenti di tanggal 9 Juli, ia harus terus hidup menjadi nilai-nilai dalam ruang bersama bernama Indonesia, di mana setiap manusia di dalamnya aman dan sejahtera karema dipimpin oleh pemerintah yang berani melindungi, mencerdaskan dan memajukan kesejahteraan bersama.

Saya ingin menegaskan kembali hal-hal mendasar ini, agar kita tak terjebak dalam sikap a-futuris (semoga istilah ini benar) yaitu masa bodoh terhadap jalannya masa depan karena hanya memikirkan pemenuhan kebutuhan hari ini. Optimisme harus terus menyala, demi memberi penerangan menuju cita-cita kita bersama: masyarakat adil makmur yang diridhai Allah swt.

Billahittaufiq wal hidayah,

Yakin Usaha Sampai!

Arief Rosyid Hasan
Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s