Catatan Awal Tahun Ketua Umum PB HMI

M Arief Rosyid Hasan Ketum PB HMI
M Arief Rosyid Hasan
Ketum PB HMI

2015: Tahun Gaduh Bekerja

Di manakah Presiden Joko Widodo, kebanyakan menteri kabinet kerja, kaum inteligensia, para pengusaha, dan sebagian besar kelas menengah Indonesia sekitar 30-40 tahun lalu? Jika membaca kisah hidup tokoh-tokoh terkemuka negeri ini, sebagian besar mereka berasal dari keluarga kelas menengah bawah dan hidup di tengah suasana pedesaan.

Mengapa mereka bisa menempati posisi yang sekarang? Ini terutama karena faktor pendidikan. Meminjam istilah Mendikbud Anies Baswedan, pendidikan adalah eskalator sosial. Hanya melalui pendidikan, wawasan menjadi terbuka, pengetahuan makin dalam, dan pergaulan makin luas. Dampak ikutannya, kualitas manusia makin meningkat dan status sosial-ekonomi mereka naik.

Himpunan Mahasiswa Islam hadir sebagai organisasi perkaderan, tak lain untuk menyiapkan ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh, mengakar pada nilai keislaman yang universal, sekaligus melatih kecakapan sosial. Melalui aktifitas di HMI, kita tak pernah kekurangan teladan dari para pendahulu dalam hal membangun masa depan diri masing-masing dan lingkungan sosial. Kisah dan perjuangan figur sebesar Lafran Pane, Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, atau para syahid seperti Wahib dan Munir, adalah telaga hikmah yang menyediakan cermin bagi kita untuk terus memperbaiki barisan dalam perjuangan.

Karena untuk berjuang membangun masa depan, memang harus lebih dahulu menarik pelajaran dari masa lalu, dengan penuh syukur dan ikhlas. Siapa mau berjuang niscaya harus bersedia menanggung kerugian kecil, jangka pendek dan bersifat sementara untuk diri sendiri, dan berani memusatkan perhatian dirinya kepada usaha mencapai tujuan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Suatu tekad yang hanya dilandasi keyakinan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa jerih payah, sebagaimana tidak ada hari raya tanpa berpuasa.

Di era media sosial kini, ketika informasi bahkan merengsek masuk ke ranah paling pribadi, kita tak bisa lagi menghindar dari kegaduhan polemik dan perdebatan. Namun sebaiknya kegaduhan kita dalam menunjukkan diri tak mengalahkan kegaduhan dalam berbuat sesuatu, bekerja keras memperbaiki kualitas kehidupan. Hari-hari kita sungguh akan menyedihkan bila menjalani hidup dengan gaduh, namun tanpa menyibukkan diri dengan kerja.

Garis ukurannya adalah sikap independen, yaitu menjaga jarak yang sama dengan segala hal, kecuali kebenaran. Independensi bukanlah sikap pasif menunggu kemana hembus arah angin, namun berwujud pada kerja amr ma’ruf. Dalam bingkai kekinian, amr ma’ruf berarti pro-aktif membangun dan meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat. Upaya ini tak sekadar mengandalkan semangat berapi-api dan berkobar saja, juga mensyaratkan kemampuan teknis yang tinggi dan wawasan keilmuan yang mendalam, disertai keterlibatan yang tulus dalam masalah kemasyarakatan.

Amanah sebagai Ketua Umum PB HMI sekitar dua puluh bulan terakhir memberi kesempatan bagi saya berkunjung ke sedemikian banyak komisariat, cabang dan badko, serta berjumpa dengan ribuan kader dengan tradisi yang khas masing-masing. Berbagai seremoni pelantikan, workshop, seminar, diskusi, dialog publik, basic, intermediate dan advance training, serta pertemuan epistemik lainnya telah diselenggarakan dengan baik oleh begitu banyak pihak.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa sikap hidup yang terbuka dan optimis adalah sesuatu yang sudah built in pada masing-masing sanubari kita. Buktinya kita tak pernah diam dan kehilangan semangat untuk selalu berbuat, namun terus aktif melakukan perbaikan dan menggerakkan organisasi ini ke arah yang ideal. Namun agar kiprah HMI tak kehilangan daya tawar dan nilai strategis dalam lingkungan sosialnya yang terus bergerak ke depan, saya memiliki beberapa catatan penting bagi kita untuk diperhatikan.

Pertama, sebagai lembaga intelektual, tak bosan saya mengingatkan bahwa kita tak punya pilihan lain kecuali meningkatkan tradisi literasi; membaca, menulis, dan berdiskusi. Tiga aktifitas yang selama ini barangkali dianggap ringan, namun sesungguhnya menjadi penjaga gawang kita untuk menghindari kekalahan. Tri-tradisi inilah modal dasar bagi kita semua dalam memerankan aktifitas apapun di masa ini maupun ke depan.

Kedua, menghadapi bonus demografi dan perdagangan bebas ASEAN yang akan memergoki halaman rumah kebangsaan sejak hari ini, kita perlu membuka ruang diversifikasi perkaderan dengan wawasan keprofesian dan kewirausahaan yang semakin menonjol. Membangun keprofesian berarti membangun fokus keahlian, spesialisasi. Inilah kebutuhan utama untuk membangun keunggulan yang khas, dalam menghadapi persaingan dengan bangsa lain.

Ketiga, platform gerakan HMI Untuk Rakyat adalah kemestian untuk terus dilanjutkan ke seluruh level organisasi. Jika kita menaruh percaya pada sistem pemerintahan yang demokratis, maka penyelamatan demokrasi paling ampuh adalah dengan melakukan pendampingan komunitas. Karena subyek di akar rumput inilah yang akan menentukan siapa yang akan mereka pilih untuk memimpin mereka.

Jika setidaknya setiap satu cabang HMI harus memiliki sebuah komunitas/desa dampingan/binaan, maka bayangkan gerakan sosial sebesar apa yang bisa diwujudkan dengan lebih 200 cabang yang kita miliki hari ini. Gerakan membangun basis inilah yang akan membawa keseimbangan pada mobilitas organisasi, sekaligus menyiapkan modal awal bagi masing-masing kita dalam membangun pengabdian di masa berikutnya.

Menjelang perayaan Dies Natalis ke-68 dan penyelenggaraan Kongres ke-29 kelak, kita semua harus berkomitmen untuk menjaga dan melanjutkan semangat ini. Platform gerakan harus terus dilanjutkan dengan kerja nyata dalam pengabdian kepada rakyat. inilah bagi saya, syarat utama yang harus kita penuhi untuk sampai kita pada muara perjuangan; masyarakat Indonesia yang adil-makmur.

Usia muda adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan potensi, tak berhenti mengusahakan peningkatan diri. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan hari ini melalui himpunan yang kita cintai, adalah cermin dari masa depan seperti apa yang kita pilih kelak. Tugas kita adalah bekerja keras, niscaya waktu akan menjawab.

Kepada saudaraku sehimpun secita, selamat menjalani tahun yang baru.

Yakin usaha sampai.

sumber : http://insancita.co/index.php?p=blogs/viewstory/255

One thought on “Catatan Awal Tahun Ketua Umum PB HMI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s